v5FccDc0nR3GALsLO2OtVYfSjeQ
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 13 April 2011

Karl "DAS KAPITAL" Marx

~T*Shirt Anak Negeri~


 FIND THIS T-SHIRT ON MY FB

FIND THIS T-SHIRT ON MY FB


KARL MARX: Penulis Das Kapital

KARL HEINRICH MARX dilahirkan di Trier, Prussia, 5 Mei 1818. Ayahnya, seorang pengacara, menafkahi keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah Prussia. Ayahnya adalah dari pendeta yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan bisnis, ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda. 
Pada 1841, Marx menerima gelar Doktor Filsafat dari Universitas Berlin, sebuah universitas yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran Hegel dan guru–guru muda penganut filsafat Hegel, tetapi berpikir kritis. Gelar doktor Marx diperolehnya berdasarkan sebuah kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian. 
Setelah tamat, ia menjadi penulis untuk sebuah koran liberal radikal dan dalam tempo 10 bulan ia menjadi editor kepala koran itu. Tetapi karena pendirian politiknya, koran itu kemudian ditutup oleh pemerintah. Esai–esai awal yang diterbitkan dalam periode itu mulai mencerminkan sebuah pendirian yang membimbing Marx sepanjang hidupnya. Esai-esai tulisan Marx itu secara bebas ditaburi prinsip-prinsip demokrasi. 
Ia menolak terlalu abstraknya ajaran filsafat hegelian, mimpi naif komunis utopia dan gagasan aktivis yang mendesak apa yang ia anggap sebagai tindakan politik prematur. Dalam menolak gagasan aktivis itu, Marx meletakkan landasan bagi gagasan hidup sendiri. Upaya praktis, bahkan dalam mengarahkan massa sekalipun, akan dijawab dengan meriam saat upaya itu dianggap berbahaya. 
Bagi Marx, gagasan ideal adalah yang dapat mengarahkan intelektualitas dan yang mampu menaklukkan keyakinan manusia. Gagasan yang dapat membekukan kita, merupakan belenggu–belenggu di mana seorang hanya bisa lepas dari gagasan itu dengan mengorbankan nyawanya. 
Marx menikah pada 1843. Tak lama berselang, ia terpaksa meninggalkan Jerman demi mendapatkan suasana yang lebih libaral di Paris, Perancia. Di Paris, ia bukan hanya bergulat dengan gagasan Hegel dan para pendukungnya, tetapi juga menghadapi dua mainstream gagasan baru yakni Sosialisme Perancis dan Politik Ekonomi Inggris. Dengan cara yang unik dia menggabungkan hegelian, sosialisme dan ekonomi politik yang di belakang hari menentukan orientasi intelektualnya. 
Peristiwa sangat penting dialami Marx saat bertemu dengan orang yang kemudian menjadi teman seumur hidupnya, donatur dan kolabolatornya, Frederich Engels (Carver, 1983). Engels sendiri --putra penguasa pabrik tekstil-- menjadi seorang sosialis yang kerap mengkritisi kondisi kehidupan yang dihadapi kelas buruh. Kepedulian Marx pada kesengsaraan hidup kelas buruh tak lepas dari sikap kritis Engels dan gagasannya sendiri. Pada 1844, Marx dan Engels mengadakan diskusi panjang di sebuah Café terkenal di Paris dan meletakkan landasan kerja untuk bersahabat seumur hidup. 
Menyinggung diskusi itu, Engels berkata, "kesepakatan lengkap kami dalam semua budang teori menjadi nyata….dan perjanjian kerja sama kami mulai sejak itu." (McLellan, 1993:131). Pada tahun berikutnya, Engels menerbitkan sebuah buku bertitel: The Condition of The Working Class in England. Selama periode itu Marx menerbitkan sejumlah karya yang sangat sukar difahami (kebanyakan karyanya belum diterbitkan semasa hidupnya) termasuk The Holy Family dan The German Ideology  (di tulis bersama Engels) dan ia pun menulis The Economic and Philosophic Manuscripts (1844) yang menegaskan perhatiannya terhadap bidang ekonomi semakin meningkat. 
Meski Marx dan Engels mempunya orientasi teoritis yang sama, namun ada juga beberapa perbedaan di antara mereka. Marx cenderung menjadi seorang intelektual teoritis yang kurang teratur dan sangat berorientasi kepada keluarga. Engels adalah pemikir praktis, rapi, pengusaha, dan orang yang tak percaya pada lembaga keluarga. Meski mereka berbeda, Marx dan Engels menempa kerja sama yang akrab sehingga mereka berkolaborasi menulis buku dan artikel dan bekerja sama dalam organisasi radikal. Tak hanya itu, Engels bahkan membantu pembiayaan Marx selama sisa hidupnya sehingga memungkinkan Marx mencurahkan perhatiannya pada kegiatan intelektual dan politiknya. 
Walaupun ada ikatan erat antara Marx dan Engels, namun Engels menahbiskan dirinya sebagai "teman junior" dari Marx. "Marx mampu berkarya sangat baik tanpa aku. Aku tidak pernah mencapai prestasi seperti yang dicapai Marx. Pemahaman Marx lebih tinggi, pengalamannya lebih jauh dan pandangannya lebih luas serta cepat ketimbang aku. Marx adalah jenius," tutur Engels. (Di kutip dalam McLellan,1973: 131-132) 
Banyak yang percaya, Engels gagal memahami berbagai seluk beluk pemikiran Marx. Setelah Marx meninggal, Engels menjadi juru bicara utama bagi Teori Marxian, walaupun dalam berbagai aspek cenderung menyimpangkan dan terlalu menyerderhanakannya, meski ia tetap setia terhadap perspektif politik yang ia tempa bersama Marx. Karena beberapa tulisannya telah mengganggu pemerintahan Prusia, pemerintah Perancis (atas permohonan Prusia) mengusir Marx pada 1845 keluar dari negara itu. Karenanya Marx pindah ke Brussel, Belgia. 
Di Brussel, radikalisme Marx justru meningkat. Ia bergabung dan menjadi anggota aktif di bidang gerakan revolusioner internasional. Ia juga bergabung dengan Liga Komunis dan bersama Engels diminta menulis anggaran dasar liga itu. Produk Marx dan Engels itu lah yang kemudian terkenal dengan sebutan Manifesto Communist (1848), sebuah karya besar yang di dalamnya diccantumkan sejumlah slogan politik termasyhur dan mendunia seperti: "Workers...Unite!!!" ("Kaum buruh seluruh dunia bersatulah’!!!). 
Pada 1849, Marx hijrah ke London, Inggris. Mengingat kegagalan Revolusi Politik 1848, ia menarik diri dari segala aktivitas revolusioner. Ia beralih ke kegiatan riset yang lebih rinci tentang peran sistem kapitalis. Dari riset itu, Karl Marx membukukannya dengan judul Das Kapital, dalam tiga jilid buku. Buku jilid pertama dia terbitkan pada 1867; sedangkan dua jilid buku lainnya diterbitkan setelah ia meninggal dunia. Selama riset itu, Marx hidup dalam kemiskinan, membiayai hidupnya secara sederhana dari honorarium menulis, serta dan bantuan dana dari sahabatnya Engels. 
Pada 1864, Marx terlibat kembali dalam kegiatan politik. Ia bergabung dengan ‘The International’, sebuah gerakan buruh internasional. Ia menjadi tokoh paling menonjol di tubuh gerakan itu. Ia mencurahkan perhatiannya selama beberapa tahun untuk gerakan itu. Ia mulai mendapat popularitas, baik sebagai pimpinan The Internasional maupun sebagai penulis Das Kapital
Perpecahan internal di dalam gerakan The International pada 1876, kegagalan  berbagai gerakan revolusioner, serta rongrongan komplikasi penyakit di tubuhnya akhirnya membuat Karl Marx ambruk. Marx wafat pada 1883, dua tahun setelah istrinya wafat, dan setahun setelah anak perempuannya wafat.   

(Sumber: http://nataebiografiteacher.blogspot.com/2007/09/karl-marx.html; Dikutip dan disunting secara redaksional dari http://www.2lisan.com/biografi/politikus/biografi-karl-marx/)

Video Koleksi Distro Anak Negeri

Tshirt Anak Negeri Slideshow: Anis’s trip to Jakarta was created with TripAdvisor TripWow!