v5FccDc0nR3GALsLO2OtVYfSjeQ
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 05 Juni 2012

Cara 'polisi super' Hoegeng berantas beking aparat


Anggota Marinir TNI AL menjadi beking warung remang-remang di Padang. Warga yang marah kemudian membakar warung karena kesal. Keributan pun tak terhindarkan, Selasa (30/5).

Banyak aparat hukum malah menjadi beking tempat maksiat, perjudian hingga menjadi bodyguard. Hanya sedikit yang berani mengobrak-abrik praktik beking ini. Polisi super Hoegeng Imam Santoso mungkin yang paling berani.

Ceritanya tahun 1955, Kompol Hoegeng mendapat perintah pindah ke Medan. Tugas berat sudah menantinya. Penyelundupan dan perjudian sudah merajalela di kota itu. Para bandar judi telah menyuap para polisi, tentara dan jaksa di Medan. Mereka yang sebenarnya menguasai hukum. Aparat tidak bisa berbuat apa-apa disogok uang, mobil, perabot mewah dan wanita. Mereka tak ubahnya kacung-kacung para bandar judi.

Bukan tanpa alasan kepolisian mengutus Hoegeng ke Medan. Sejak muda dia dikenal jujur, berani dan antikorupsi. Hoegeng juga haram menerima suap maupun pemberian apapun.

Maka tahun 1956, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut. Hoegeng pun pindah dari Surabaya ke Medan. Belum ada rumah dinas untuk Hoegeng dan keluarganya karena rumah dinas di Medan masih ditempati pejabat lama.

Cerita soal keuletan para pengusaha judi benar-benar terbukti. Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya. Utusan itu menyampaikan selamat datang untuk Hoegeng. Tak lupa, dia juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha.

Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia. Demikian ditulis dalam buku 'Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa-' terbitan Bentang.

Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, bukan main terkejutnya Hoegeng. Rumah dinasnya sudah penuh barang-barang mewah. Mulai dari kulkas, piano, tape hingga sofa mahal. Hal yang sangat luar biasa. Tahun 1956, kulkas dan piano belum tentu ada di rumah pejabat sekelas menteri sekalipun.

Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi. Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. Hingga waktu yang ditentukan, utusan itu juga tidak memindahkan barang-barang mewah tersebut.

Apa tindakan Hoegeng?

Dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah. Bagi Hoegeng itu lebih baik daripada melanggar sumpah jabatan dan sumpah sebagai polisi Republik Indonesia.

Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. "Sebuah kenyataan yang amat memalukan," ujarnya geram.

Selama Hoegeng bertugas di Medan, tak terhitung banyaknya kasus penyelundupan dan perjudian yang berhasil dibongkarnya. Dalam setiap operasi bisa langsung tertangkap dua hingga tiga bandar judi. Begitu juga dengan berbagai kasus penyelundupan kelas kakap.

Acap kali pula Hoegeng mendapati ada beking polisi atau tentara. Saat membongkar penyelundupan minyak nilam di Teluk Nibung, ternyata praktik ilegal itu dibekingi seorang polisi berpangkat kompol.

Begitu pula saat Hoegeng membongkar perjudian. Di salah satu lokasi ternyata ada tentara yang menjadi beking. Untung saja panglima tentara di Medan, Kolonel Maludin Simbolon juga dikenal bersih dan antikorupsi. Dia sangat membantu Hoegeng. Bahkan dia dan Hoegeng bahu membahu membersihkan kesatuan masing-masing dari aparat yang nakal.

Tapi tetap saja langkah keras Hoegeng mendapat rintangan. Salah seorang perwira yang menjadi beking judi pernah berusaha menyantet Hoegeng. Belakangan si dukun malah malah mendatangi Hoegeng dan minta ampun pada Hoegeng. Dia tidak tega menyantet Hoegeng yang jujur dan bersih.

Sikap idealis Hoegeng terus dipertahankan hingga dia menjadi Kapolri. Bahkan saat menjabat kapolri, Hoegeng tidak punya mobil selain mobil dinas. Malah anak buahnya yang khawatir akan nasib Hoegeng setelah pensiun. Demikian diceritakan Jenderal polisi Kunarto.

Mereka pun uranan membelikan sebuah mobil untuk Hoegeng. Hoegeng yang mendengar hal ini marah besar. Dia memanggil anak buahnya. Menghadapi Hoegeng, para jenderal ketakutan. Mereka berbohong kalau rencana itu dibatalkan. Tapi sebenarnya mereka tetap membelikan sebuah mobil untuk Hoegeng.

Saat serah terima jabatan Kapolri selesai, mereka menyerahkan mobil itu pada Hoegeng. Hoegeng kembali marah besar. Akhirnya terpaksa para jenderal bawahan Hoegeng datang ke rumah Hoegeng. Secara hati-hati dan panjang lebar, mereka menjelaskan maksud pemberian itu. Setelah berjam-jam, Hoegeng mau menerimanya. Tapi dia hampir tidak pernah menggunakan mobil itu.

"Ini adalah gambaran sikap antikorupsi yang berakar dalam dan selalu menajam, sebagai legenda yang mewarnai jalan hidup Pak Hoegeng dan keluarganya," puji Kunarto.



Sumber: merdeka | Berita Terbaru

Cara 'polisi super' Hoegeng berantas beking aparat


Anggota Marinir TNI AL menjadi beking warung remang-remang di Padang. Warga yang marah kemudian membakar warung karena kesal. Keributan pun tak terhindarkan, Selasa (30/5).

Banyak aparat hukum malah menjadi beking tempat maksiat, perjudian hingga menjadi bodyguard. Hanya sedikit yang berani mengobrak-abrik praktik beking ini. Polisi super Hoegeng Imam Santoso mungkin yang paling berani.

Ceritanya tahun 1955, Kompol Hoegeng mendapat perintah pindah ke Medan. Tugas berat sudah menantinya. Penyelundupan dan perjudian sudah merajalela di kota itu. Para bandar judi telah menyuap para polisi, tentara dan jaksa di Medan. Mereka yang sebenarnya menguasai hukum. Aparat tidak bisa berbuat apa-apa disogok uang, mobil, perabot mewah dan wanita. Mereka tak ubahnya kacung-kacung para bandar judi.

Bukan tanpa alasan kepolisian mengutus Hoegeng ke Medan. Sejak muda dia dikenal jujur, berani dan antikorupsi. Hoegeng juga haram menerima suap maupun pemberian apapun.

Maka tahun 1956, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut. Hoegeng pun pindah dari Surabaya ke Medan. Belum ada rumah dinas untuk Hoegeng dan keluarganya karena rumah dinas di Medan masih ditempati pejabat lama.

Cerita soal keuletan para pengusaha judi benar-benar terbukti. Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya. Utusan itu menyampaikan selamat datang untuk Hoegeng. Tak lupa, dia juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha.

Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia. Demikian ditulis dalam buku 'Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa-' terbitan Bentang.

Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, bukan main terkejutnya Hoegeng. Rumah dinasnya sudah penuh barang-barang mewah. Mulai dari kulkas, piano, tape hingga sofa mahal. Hal yang sangat luar biasa. Tahun 1956, kulkas dan piano belum tentu ada di rumah pejabat sekelas menteri sekalipun.

Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi. Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. Hingga waktu yang ditentukan, utusan itu juga tidak memindahkan barang-barang mewah tersebut.

Apa tindakan Hoegeng?

Dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah. Bagi Hoegeng itu lebih baik daripada melanggar sumpah jabatan dan sumpah sebagai polisi Republik Indonesia.

Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. "Sebuah kenyataan yang amat memalukan," ujarnya geram.

Selama Hoegeng bertugas di Medan, tak terhitung banyaknya kasus penyelundupan dan perjudian yang berhasil dibongkarnya. Dalam setiap operasi bisa langsung tertangkap dua hingga tiga bandar judi. Begitu juga dengan berbagai kasus penyelundupan kelas kakap.

Acap kali pula Hoegeng mendapati ada beking polisi atau tentara. Saat membongkar penyelundupan minyak nilam di Teluk Nibung, ternyata praktik ilegal itu dibekingi seorang polisi berpangkat kompol.

Begitu pula saat Hoegeng membongkar perjudian. Di salah satu lokasi ternyata ada tentara yang menjadi beking. Untung saja panglima tentara di Medan, Kolonel Maludin Simbolon juga dikenal bersih dan antikorupsi. Dia sangat membantu Hoegeng. Bahkan dia dan Hoegeng bahu membahu membersihkan kesatuan masing-masing dari aparat yang nakal.

Tapi tetap saja langkah keras Hoegeng mendapat rintangan. Salah seorang perwira yang menjadi beking judi pernah berusaha menyantet Hoegeng. Belakangan si dukun malah malah mendatangi Hoegeng dan minta ampun pada Hoegeng. Dia tidak tega menyantet Hoegeng yang jujur dan bersih.

Sikap idealis Hoegeng terus dipertahankan hingga dia menjadi Kapolri. Bahkan saat menjabat kapolri, Hoegeng tidak punya mobil selain mobil dinas. Malah anak buahnya yang khawatir akan nasib Hoegeng setelah pensiun. Demikian diceritakan Jenderal polisi Kunarto.

Mereka pun uranan membelikan sebuah mobil untuk Hoegeng. Hoegeng yang mendengar hal ini marah besar. Dia memanggil anak buahnya. Menghadapi Hoegeng, para jenderal ketakutan. Mereka berbohong kalau rencana itu dibatalkan. Tapi sebenarnya mereka tetap membelikan sebuah mobil untuk Hoegeng.

Saat serah terima jabatan Kapolri selesai, mereka menyerahkan mobil itu pada Hoegeng. Hoegeng kembali marah besar. Akhirnya terpaksa para jenderal bawahan Hoegeng datang ke rumah Hoegeng. Secara hati-hati dan panjang lebar, mereka menjelaskan maksud pemberian itu. Setelah berjam-jam, Hoegeng mau menerimanya. Tapi dia hampir tidak pernah menggunakan mobil itu.

"Ini adalah gambaran sikap antikorupsi yang berakar dalam dan selalu menajam, sebagai legenda yang mewarnai jalan hidup Pak Hoegeng dan keluarganya," puji Kunarto.



Sumber: merdeka | Berita Terbaru

Video Koleksi Distro Anak Negeri

Tshirt Anak Negeri Slideshow: Anis’s trip to Jakarta was created with TripAdvisor TripWow!